RSS

Siapa Target Pasar ‘Fried Chicken’ Lokal ???

Bermula dari rekomendasi teman tentang gerai ‘Fried Chicken’ ala KFC rasa lokal, saya mencoba fried cicken satu ini. Biasanya males sih nyoba nyoba ayam goreng ala ‘fried chicken’, bukan kenapa, hanya karena saya gak begitu suka dg ayam goreng bertepung ini. Saya lebih suka ayam goreng ‘spicy’ ala Jawa yang pakai sambel puedesss. Saya pakai istilah ‘fried chicken’ untuk membedakannya dengan ayam goreng ala Jawa.

Tapi karena anak anak saya pada suka ‘fried chicken’ (belum nemu sih anak anak yang gak suka ‘fried chicken’ apalagi kalau itu KFC), jadilah saya mampir ke Jacson nama gerai fried chicken lokal tadi. Nama memang berbau Amerika, tapi yang punya orang Dampit, Malang Selatan.

Gerai itu setiap hari selalu ramai, buka pagi sampai malam. Di kota Malang sudah ada 2 gerai, dan dua duanya ramai, apalagi kalau liburan. Saya selalu suka mengamati rumah makan atau toko yang ramai. Bangunan tidak terlalu luas, lumayanlah hampir sama dengan gerai KFC di kota kecil macam Malang ini.

Di pelataran parkir jangan harap menjumpai mobil, yang ada hanya motor, karena itu lahan parkir mereka tidak terlalu luas, cukuplah untuk puluhan motor. Dan 2 gerai mereka berada pada jalan ramai yang dilalui angkot.

Dari pengamatan di pelataran parkir saja sudah jelas siapa target pasar mereka. Yang saya kagumi mereka jeli membidik target pasar dan konsisten dalam pelayanan untuk kelas konsumen mereka.

Dimulai dari menu, mereka tentu saja bikin paket hemat, seporsi ‘fried chicken’ + nasi + es teh hanya Rp. 7.000. Kalau di KFC menu yang sama sudah sekitar Rp. 20.000. Mereka bisa murah sekali, karena gak pakai soft drink, tapi es teh di gelas bukan teh kemasan botol. Ayam yang masuk paket hanya yang bagian paha atau sayap, bagian dada (yang lebih mahal) dijual terpisah.

Soal rasa ayamnya, lumayanlah (dengan harga segitu) hampir sama dengan KFC, bumbu meresap ke ayam bukan hanya sebatas tepung saja. Tapi sayang sebagian ayam yang mungkin terlalu lama di lemari kaca pemanas, kerenyahannya sudah berkurang, terutama bagian dada ayam yang bertepung tebal.

Itulah yang membedakannya dari KFC. Standar kualitas KFC, untuk ‘fried chicken’ yang sudah melewati ‘batas toleransi’ waktu penyimpanan pasti akan di-destroy. Tidak ada rasa ‘sayang’ kalau berhadapan dengan standar QC. Sehingga tidak pernah ada produk ‘fried chicken’ mereka yang terasa keras balutan tepungnya, seperti yang saya rasakan kemarin di resto ‘fried chicken’ lokal ini. Standar QC inilah yang dibayar ‘mahal’ oleh konsumen KFC. Jadi logikanya, konsumenlah yang membiayai produk yang kena ‘destroy’ :(

Di ‘fried chicken’ lokal ini, kemarin saya tengak tengok kali saja menemukan pengunjung dengan kernyitan di dahi menghadapi ‘fried chicken’ yang sudah keras. Dan yang saya lihat hanya wajah wajah yang sedang menikmati sajian di piringnya. Ternyata mereka tidak bermasalah dengan itu.

Oke mungkin rasa ‘sedikit keras’ pada ‘fried chicken’ ini bisa ditolerir oleh konsumen mereka. Selanjutnya tentang detil yang lain: sedotan yang dipakai bukan sedotan putih berulir yang bisa bengkok, hanyalah sedotan lurus yang tentu harganya lebih murah. Tidak ada mesin pengering tangan di wastafel mereka, yang ada hanya handuk :) Tidak ada TV dan tentu tidak ada Wifi gratis.

Yah mereka memang harus menghemat banyak hal yang masih bisa ditolerir konsumennya, untuk menyesuaikan diri dengan harga yang hanya 1/3 dari harga KFC.

Saya kagum dengan ketajaman cara ‘fried chicken’ lokal ini membidik target pasarnya. Mulai dari lokasi dipilih bukan lokasi kelas A di kota Malang. Mungkin hanya lokasi kelas C, tapi kelas C yang ramai, dekat pemukiman yang padat penduduk, jalan ramai dengan banyak jalur angkot.

Satu lagi, tentang musik, tentu tidak ada musik jazz di sini he he. Atau musik gamelan Jawa yang biasa terdengar di resto resto bernuansa alam, yang tentu tidak disukai oleh kelas konsumen mereka.

Jika dibandingkan dengan gerai ‘fried chicken’ Amazy, gerai Jacson ini lebih cerdas (menurut saya sih) dalam membidik target pasar. Amazy tidak jelas target pasarnya, dan tidak konsisten…..iyalah ‘inkonsistensi’ terjadi karena targetnya tidak jelas.

Amazy yang ada di kota Malang (setahu saya) pilihan lokasinya beragam. Satu gerai di lokasi kelas B+, di sebuah ruko dekat Plaza Dieng, gerai yang lain dekat kampus ITN. Siapa sih sebenarnya yang mereka bidik? Kalau targetnya mahasiswa, harga Amazy masih tergolong mahal. Kalau targetnya ‘menengah’ kenapa salah satu gerai ada di dekat kampus. Entahlah………

Dan faktanya Amazy kalah ramai dengan Jacson.

Ah saya jadi punya alternatif kalau anak anak pingin makan ‘fried chicken’ he he :)

 
4 Comments

Posted by on 08/01/2012 in bisnis

 

Tags: , , , , ,

Pelajaran Dari Workshop Bisnis ‘How To Grow Your Business’

Kemarin TDA Ngalam, komunitas yg saya cintai menyelenggarakan workshop bisnis seharian (rencananya sih). Workshop ini bertema bagaimana membangun fondasi bisnis dan membangun beberapa lantai di atas fondasi itu. Bisnis diibaratkan membangun gedung bertingkat.

Narasumber adalah Teguh Wibawanto yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden TDA. Kesan saya, Pak Teguh ini seorang yang suka belajar, cerdas, dan runtut. Banyak dari logika pemikirannya yang bikin saya sreg. Pak Teguh ini bukan tipe pembicara yang berapi api khas motivator, beliau adalah guru yang detil dan runtut dalam mengajar. Bukankah jadi pembicara seminar adalah pekerjaan semacam guru.

Tapi sayang dari materi yang semakin lama semakin padat menuntut keseriusan, terpaksa harus disunat karena kendala kuota waktu sewa ruangan.

Kritik terbuka saya untuk panitia (eh saya juga panitia ding, jadi kritik untuk diri saya sendiri juga dong) yaitu untuk materi yang banyak, padat seperti itu sebaiknya sesi sesi ‘bermain’ yang fungsinya untuk penyegaran diminimalkan, taruhlah 2 menit saja setiap alokasi waktu sebelum coffee break. Karena sayang, para peserta sudah mulai masuk ke tahap serius, dan pembicaranya juga masih bersemangat, harus diakhiri karena keterbatasan waktu. Sehingga materi terakhir disajikan dengan terbirit birit. Jadi ibarat olahraga tidak mencapai orgasme…..ups.

Atau mustinya workshop ini dibikin 2 hari….he he mantapp. Ini sih ngelantur saja.

Oke kembali ke materi.

FONDATION
Bisnis ibarat membangun gedung bertingkat HARUS dibangun fondasinya dulu. Kelamaaaaan, kalau fondasi dulu kapan jualannya. Yaaa Anda mau membangun bisnis atau ngelapak? Kalau cuma ngelapak gak usah bangun fondasi memang. Punya atau pinjem produk, gelar dagangan, kuat malu, bisa langsung jualan. Tapi sampai kapan Anda kuat ngelapak?

- Kiat memilih bisnis bagi pemula, suka dulu, mampu dan bisa mengerjakan, dan terakhir harus menghasilkan.
- Bisnis harus fokus dahulu, tapi Anda tahu pasti ujungnya nanti akan seperti apa. Anda bisa mendeskripsikan kira kira akan seperti apa bisnis Anda 10…20…30 tahun ke depan.
- Kalau belum menjadi bangunan yang utuh jangan berpindah ke bisnis lain. Ini godaan yang sering dialami oleh pemula.

Yang harus dipunyai oleh seorang pebisnis dalam membangun FONDATION adalah:
1. Self Control:
- Memiliki tujuan

- Membuat ‘action plan’

- Manajemen waktu : Inti dari manajemen waktu adalah keahlian memilah mana tugas yang ‘urgent’ dan ‘important’. Kalau sudah ahli di sini Anda bisa meminimalkan stress.

- Identitas yang baik

- Be X Do = Have : seingat saya ini adalah formula dari Action Coach. ‘Be’ adalah bagaimana kita memandang diri kita, bagaimana kita memantaskan diri, dan bagaimana kita belajar untuk menjadi pebisnis. Dalam ‘Be’ ini ada tujuan, keyakinan, doa, dan motivasi. ‘Do’ atau tindakan yang tepat. Akan menghasilkan ‘Have’ yang diinginkan.

Saya suka dengan analogi Pak Teguh tentang Be x Do = Have ini. Jika Anda tiba tiba punya uang 1M dan anda sedekahkan semua dengan harapan Anda akan mendapatkan gantinya, sedangkan diri Anda ‘Be’ nya belum memadai. Belum tentu Anda akan mendapatkan penggantinya, bisa jadi bangkrut beneran. Tapi kalau ‘Be’ sudah dipunyai dengan ‘Do’ yang tepat, ‘Have’ hanyalah akibat saja. Karena ‘Be’ dan ‘Do’ adalah kondisi ‘keberlimpahan’ yang akan ‘attract money’ dari sumber manapun.

- Menjadi tuan dari emosi kita (ini asli nyindir saya): Karena esensi dari membangun tim bisnis adalah ‘leadership’ , dan leadership intinya adalah pengendalian diri. Gak ada karyawan yang suka bekerja untuk owner bisnis yang pemarah :)

- Fokus 10.000 jam keahlian : Saya teringat bukunya Malcolm Gladwell ‘Outliers’ (belum tamat :( ), di buku ini disajikan banyak contoh orang orang master di bidangnya karena telah melewati 10.000 jam latihan. Jadi di sini tidak masuk istilah pebisnis sukses instan. Sukses akan dicapai setelah latihan, belajar, latihan……yang panjaaaaang.

- Percaya diri

- Keahlian komunikasi

- Bersyukur

- Keberlimpahan

Point point di atas adalah penjelasan untuk sebagian yang dibutuhkan dalam membangun FONDATION.

Dalam menulis saya tidak punya keahlian menulis yang runtut, seringnya melompat lompat.  Baiklah demi memuaskan hasrat mari kita melompat :)

Beberapa yang saya ingat adalah:

1. Aspek Legalitas dalam bisnis adalah sangat penting sekali.

Dikisahkan Pak Teguh ada temannya yang berbisnis di bidang alat alat outdoor/outbond kecolongan karena nama tokonya telah diambil orang dan dipatenkan untuk nama produk. Teman ini mematenkan merk-nya dengan kategori ‘toko’ bukan ‘produk’. Jadi dia tidak bisa memakai nama/merk yang sudah diciptakannya untuk produk produknya.

Mulailah mematenkan merk Anda sebelum terkenal :) Kalau nunggu terkenal dulu baru beli patennya, ya kalau belum dipatenkan orang lain Anda beruntung. Kalau sudah, Anda harus mulai membangun brand lagi dari awal :(

2. Menulis Iklan (RULE)

Pak Teguh juga belajar dari TDW rupanya. Inti menulis iklan yang saya ingat dari TDW adalah PENGUKURAN atau MEASUREMENT. Dan Pak Teguh disiplin menerapkan ini (thumb up). Kalau bisnis Anda belum menjadi raksasa besar dan kuat, perhitungkan setiap sen yang Anda keluarkan untuk iklan.

Tapi tentu saja jangan takut untuk bereksperimen. Dengan eksperimen, Anda akan jadi tahu bahwa iklan yang sudah terbit berhasil atau tidak. Jika iklan yang sudah diterbitkan tidak berhasil………..selamat!!! Anda telah menemukan cara yang TIDAK TEPAT :) Jadi jangan diulangi lagi. Kalau Anda tidak pernah bereksperimen, bagaimana bisa tahu iklan tsb menghasilkan atau tidak.

Dikisahkan Pak Teguh, untuk bikin beberapa skrip iklan, beliau mencantumkan nomer kontak yang berlainan, dengan tujuan mudah mengukurnya. Berapa ‘call’ dari skrip/media A, berapa ‘closing’ dari A tadi.

Rule dari Pak Teguh, ulangi lagi iklan yang menghasilkan transaksi yang surplus plus plus. Buang iklan yang ‘apes’, bahkan iklan yang impas juga TIDAK perlu diulangi….catetttt !!!

Skrip iklan yang menghasilkan kira kira seperti ini  . Ini iklan yang menyentuh attention, interest, desire, action dari konsumen.

Tulisan ini tidak saya bikin bersambung lagi, karena saya sering tidak menepati janji :D

Semoga bermanfaat.

 
5 Comments

Posted by on 25/12/2011 in bisnis, TDA

 

Tags: , , , , ,

Steve Jobs, Jenius Pemberang yang Perfeksionis #1

Buku baru biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, dan diterbitkan setelah wafatnya Jobs, sangat menggoda saya. Awalnya pingin beli pre-order di toko buku online, setelah dihitung2 kok mahal juga ya meski telah didiskon, karena tentu saja ada ongkos kirim. Ah tunggu sajalah terbit di toko toko buku offline.

Dan benar, awal November buku setebal 700 halaman lebih (sama dg novel Harry Potter) sudah nangkring di toko buku kota Malang.

Saya tertarik dengan Steve Jobs, bukan karena saya ‘Apple Freak’, gadget Apple terlalu mahal buat saya, jadi satupun gak punya. Saya tertarik karena penasaran saja :)

Buku itu ditulis oleh Isaacson tanpa campur tangan Jobs, jadi mungkin Jobs belum sempat membacanya karena keburu wafat. Isaacson mewancarai bukan hanya Jobs, tapi juga orang orang di sekitarnya, entah itu keluarga, Apple, teman, bahkan musuhnya. Jadi tak pelak kalau buku ini juga menelanjangi Jobs, sifat sifat dan kelakuannya yang menyebalkan dan menyakiti banyak orang, selain kisah suksesnya menciptakan produk produk invatif yang sukses.

Saya hanya ingin mengambil poin poin tentang diri Jobs yang menarik perhatian saya, berikut ringkasannya:

 

1. Perfeksionis Murni

Jobs seorang perfeksionis murni, dia bukan saja berharap kesempurnaan itu datang dari dirinya, tapi juga orang orang lain yang bekerja untuknya. Dan dia tidak pernah berkompromi tentang itu. Dalam melemparkan kritik, dia tidak pernah berpikir tentang cara mengkritik yang bisa diterima orang. Dia bisa meledak ledak, berteriak, mengumpat jika menemui bahwa pekerjaan orang lain tidak sesuai dengan standar kesempurnaannya.

Jobs juga sangat peduli detil, dalam setiap produk yang diciptakannya, setiap lekuk fisik produk mendapat perhatiannya secara penuh, tidak peduli bahwa konsumen akan melihat sisi tersebut atau tidak.  Dia berpendapat, seorang tukang kayu yang hebat, tidak akan membuat lemari dengan bagian belakang dari kayu triplek (yg notabene jelek tampilannya), meski bagian belakang itu tidak pernah dilihat orang karena selalu menghadap dinding.

Jadi bisa dibayangkan, ‘jeroan’ produk Apple harus terlihat indah, meski hal itu mungkin tidak akan dilihat oleh konsumen, dan meski yang melihat hanyalah teknisi Apple :)

Menciptakan kotak produk dia juga perfeksionis. Kotak harus terlihat indah, anggun saat dibuka, sehingga orang tahu kalau ada produk yg lebih indah di dalamnya.

Dia menggabungkan seni dan teknologi, dan itu dikerjakannya tanpa kompromi.

Kalau gadget lain dibuat dengan mendesain ‘jeroannya’ dulu, baru desain ‘casing’ atau tampilan luar menyusul. Jobs tidak, dia mempekerjakan seniman desain kelas 1 (Jhonny Ive), dan desain tampilan luar dulu yang dikerjakan, baru ‘jeroan’ mengikuti ‘casing’nya.

 

2. Suka mengendalikan semua dari hulu sampai hilir.

Semua produk Apple dirancang untuk sulit dibuka oleh sembarang orang. Bahkan desain MacIntosh, dibuat untuk tidak bisa dibuka dengan obeng biasa. Semua produk Apple tertutup, mereka menutup software dan hardware dari produk lain. Apple bermain di lini software, hardware, kemudian konten juga (iTunes Store).

Produk Apple tidak kompatibel dengan gadget merk lain, kecuali iPod (seri tertentu iPod yang kemudian dibuat juga untuk versi PC berbasis Windows). Ini cerminan dari sifat Jobs yang suka mengendalikan semuanya.

Apple tidak seperti perusahaan besar lainnya mis. Sony, AOL Time Warner yang dibagi menjadi sejumlah divisi (kata divisi sendiri sudah memberikan petunjuk) dengan perhitungan keuangan terpisah. Target untuk mewujudkan sinergi dalam perusahaan semacam ini dengan mendorong semua divisi bekerja, sering kali tidak tercapai.

Jobs tidak membagi Apple menjadi berbagai divisi semi otonom, dia mengendalikan semua timnya dan mendorong mereka untuk bekerja sebagai satu perusahaan yang kohesif dan fleksibel. Dengan 1 pembukuan.

 

3. Kunci Produk yang hebat adalah SDM.

Jobs hanya menerima calon pegawai kelas A, dia merekrut sendiri pegawai top management-nya. Menurutnya kunci penciptaan produk yang hebat adalah SDM kelas A. Dia mendepak semua pegawai yang kinerjanya ternyata hanya kelas B. Karena menurutnya pegawai kelas A hanya bisa bekerja dengan baik dengan sesama kelas A juga. Kalau ada kelas B di dalam, lama lama mereka akan menarik kelas B yang lebih banyak, dan seterusnya akan menarik kelas C. Jadi dia tidak berkompromi dengan orang orang yang berkinerja buruk …..wiiiih.

 

4. Produk yang hebat adalah gabungan seni dan teknologi.

Jobs menyukai seni, dan teknologi sekaligus. Dia bisa menggabungkan kedua hal itu dalam 1 produk. Produk teknologi lain mungkin dengan sengaja lebih mengorbankan aspek seninya. Prinsip ini tidak hanya untuk produk Apple, film-film keluaran Pixar (perusahaan film animasi miliknya) juga memadukan seni dan teknologi. Toy Story, A Bugs Life, Monster Inc., Finding Nemo, Cars, adalah beberapa film keluaran Pixar yg sukses berat di pasaran. Film film itu bukan hanya indah secara grafis saja, tapi juga script dan jalan ceritanya tak kalah bagus.

Jobs adalah sedikit orang yang memahami bahwa menciptakan teknologi membutuhkan intuisi dan kreativitas. Dan menciptakan sesuatu yang berseni/artistik butuh disiplin keras.

 

5. Produk yang hebat adalah yang sederhana.

Sederhanakan!!! itu prinsip utama yang selalu ditiupkan ke dalam ruh semua produknya. Produk yang rumit tidak akan pernah menjadi hebat.

Keyboard MacIntosh sangat sederhana minimalis, tidak ada tuts pemindah kursor, cukup dengan mouse, tidak ada tuts F1,F2 dan seterusnya. Bahkan semua produk Apple tidak ada tombol on/off, produk Apple akan tidur jika tidak digunakan (benar gak nya saya kurang tahu, gak punya sih). Benar benar aplikasi ‘Think Different’ sesuai semboyan Apple.

Sederhana juga menjadi nafas Jobs dalam kehidupan pribadinya. ‘Seragam’ hitam turtle neck kebesarannya adalah contoh kesederhanaan itu, meski bukan ‘sederhana’ yang sesungguhnya, krn kaos itu adalah rancangan Issey Miyake, perancang kondang asal Jepang yang rancangannya disukai Jobs. Jobs punya si hitam itu 100 buah, yang katanya cukup dipakai selama seumur hidupnya. Kini dihibahkan ke siapa ya? :)

Rumah Jobs juga sederhana, tidak berpagar, tidak bersatpam seperti rumah rumah orang kaya Silicon Valley. Bahkan rumah Jobs muda dulu karena paduan kesederhanaan dan perfeksionisnya, tidak ada perabotan di dalamnya, dia tidak punya waktu untuk memilih perabotan yang cocok.

 

6. Totalitas 1000%

Mengerjakan sesuatu yang diinginkannya, Jobs akan total nyemplung ke dalamnya, meski berdarah darah dan penuh air mata. Totalitas 1000% ini yang membedakan Jobs dengan CEO Apple lainnya. CEO Apple sebelum Jobs, hanya berkonsentrasi pada laba dari produk yang diciptakan. Sedangkan Jobs, uang bukanlah menjadi tujuannya. Tujuannya adalah menciptakan produk yang inovatif dan menorehkan sejarah, uang adalah efek samping saja.

Hebohnya Jobs menuntut orang lain untuk total juga seperti dirinya. Jobs akan mengkritik, mencela pegawainya jika ada yang tidak disukainya. Banyak perbaikan yang dilakukan dalam proses penciptaan produk, dan Jobs selalu tidak mudah puas. Tapi dengan sikapnya yang seperti itu, dia memaksa tim nya untuk bekerja dengan lebih keras dengan standar kesempurnaannya. Dan hasilnya…..setiap peluncuran produk baru Apple, selalu banyak yang ngantri, di semua Apple Store di dunia. Demikian juga penjiplak produknya………ngantri.

 

Bersambung……………….

 
9 Comments

Posted by on 15/11/2011 in bisnis

 

Tags: , , , ,

Fenomena #Maicih

Selama 2 minggu ini saya sedang mengamati intens di social media dan media media online tentang suatu brand bernama MAICIH. Apaan itu? Sebuah brand dg produk keripik, apa hebatnya sebuah brand keripik. Yah keripiknya memang bukan kategori produk fenomenal, tapiiii strategi pemasaran dan ‘positioning’ yang dipakai itu lho, bikin saya geleng geleng kepala. Kok ada ide orisinil segila itu, bukan sembarang gila, tapi gila yang mendatangkan profit, tentu mau dooong.

Berawal dari pengamatan saya terhadap TL (Time Line) guru guru gratisan di Twitter yaitu @Iimfahima, beliau sedang kultwit tentang peranan social media bagi bisnis. Nah salah satu follower-nya ‘mention’ tentang MAICIH ini. Saya pun penasaran, maka gentayanganlah saya mencari info. Saya korek dari Facebook dan Twitter, serta media online yang mengulas tentang MAICIH ini.

Maicih adalah brand sebuah keripik berbahan singkong, kalau sekedar keripik saja banyak itu dan gak ada yang menarik. Tapi kalau keripik itu ditambah dengan unsur pedas, dan pedasnya ber’level tentu agak sedikit menarik. Level kepedasaanya dari mulai 3,5, dan terakhir sangat pedaaas sekali level 10 (duuuh gak bisa bayangin). Produknya biasa saja, diberi sedikit ‘keunikan’ maka jadilah dia. Tapi sama sama keripik pedas, ada juga produk teman TDA dulu yang menjual kepedasan sebagai jualannya, namanya ‘Keripik Setan’ entah sekarang kok gak ada kabarnya.

Kalau hanya produk yang sedikit unik saja, tanpa didukung strategi pemasaran yang jitu, ya hasilnya biasa biasa saja. Maicih lain, dari sisi produk, okelah sudah ada nilai uniknya. Tapi harus ditunjang oleh strategi pemasaran yang tidak biasa untuk menjadi sebuah fenomena.

Adalah Reza Nurhilman, mahasiswa PTS di Bandung yang menemukan Maicih. Dia menemukan produk itu bikinan seorang nenek yang menurutnya terasa enak sekali, tapi hanya diproduksi terbatas dan tidak kontinyu. Reza akhirnya mengemas keripik tersebut dan memberi label MAICIH (Mak Icih) dengan logo seorang nenek.

Kemudian dia merekrut beberapa sales yang disebut sebagai Jenderal Maicih, sedangkan Reza sendiri menyebut dirinya Presiden Maicih. Jenderal jenderal ini masih muda muda, beberapa masih mahasiswa. Dan semua Jenderal diwajibkan bikin akun Twitter dan punya mobil. Nah, jenderal jenderal ini bergentayangan (istilah mereka) menjual keripik Maicih dalam mobil, mereka mangkal di suatu pusat keramaian kota, dan jualanlah mereka di situ.

Efek viral disebarkan melalui beberapa akun Twitter yang dipunyai para jenderal tsb. Dan ada beberapa akun Twitter yang memang khusus untuk menyebarluaskan keberadaan para jenderal tsb, antara lain @infomaicih @infomaicih_jkt @infomaicih_bdg. Saat sekarang saya mengamati, @infomaicih sudah mempunyai 54.000 follower dan aktif ngetwit. Tahu kan arti 54.000 follower, itu aset yang sangat mahal. Saya sampai iri, karena mereka ngetwit dan melakukan hardselling, yang kata guru guru saya di Twitter agak diharamkan, tapi ternyata follower mereka nambah terus.

Dan kenyataan di lapangan, mobil mobil para jenderal tsb selalu dengan antrian yang mengular. Tidak hanya di Bandung saja, di Jakarta, Tangerang, Semarang, Jogjakarta juga antriii. Antrian antrian tsb di-share fotonya di Twitter dan Facebook. Pasti sudah bisa dibayangkan betapa hebat efek viralnya.

Maicih gak punya web, gak ada blog, melulu jualan dengan dibantu soc-med. Tapi konsumennya yang notabene anak anak muda netizen menjadi evangelist Maicih. Mereka (konsumen) berbagi foto sedang makan keripik Maicih, dengan muka kepedasan ‘tericih icih’ (istilah mereka). Mereka share foto makan Maicih di Twitter dan Facebook. Dan inilah kekuatan Maicih, dia dicintai konsumennya.

Pengamatan saya lanjutkan, karena masih penasaran. Saya amati terus TL @infomaicih, mereka sedang membangun karakter, ya karakter brand Maicih. Mereka dengan sengaja menciptakan istilah istilah yang konsisten dipakai, dan ternyata dicintai konsumennya. Seperti: iciher (pecinta Maicih), tericih icih (kepedasan), jenderal (para sales), gentayangan (sdg mangkal jualan), heuheuheu (ketawa khas Maicih berikut jendral2nya, jadi ketawa aja kompak). Menurut saya itu sangat khas anak muda. Reza (owner) dengan jeli membidik segmen anak muda sebagai target market, menurut saya karena hanya anak muda yang social media addict. Dan memang Twitter adalah tool utama mereka untuk menciptakan efek viral.

Nah, anak anak muda ini suka brand yang punya karakter, selain keunikan. Dari sisi produk kekuatan Maicih adalah menciptakan semacam pengalaman ‘kepedasan’. Pengalaman kepedasan inilah yang membuat para evagelist-nya bersedia memamerkan ke media online. Saya jadi ingat buku Hermawan Kertajaya, karakter netizen adalah mereka narsis, ingin sebagai subjek, ingin membagi pengalaman, nah klop kan, ketemu brand yang menurut mereka cocok dengan karakter mereka, maka tanpa dibayar mereka akan dengan senang hati menjadi pemasar viral bagi brand tsb.

Pengamatan lebih lanjut, Reza sang owner dari awal rekrut para jenderal, dia tidak rekrut sembarangan. Ada proses interview, ada proses karantina ‘Character Building’…..wiiih anak muda sudah berpikir seperti itu.

Fenomena Maicih ini juga ada buntutnya, banyak para plagiat yang jelas jelas memakai brand Maicih, bahkan ada yang buka lapak di mall. Entah saya kurang tahu pasti bagaimana Presiden Maicih mengantisipasinya, bisnis mana sih yang bebas dari pembajakan.

Nah, banyak sekali yang bisa saya pelajari dari fenomena ini. Jadi punya impian suatu saat harus ‘hire’ seseorang yang gila seperti Reza, karena saya sadar keterbatasan diri. Saya tidak akan mampu menyaingi kreativitas dan ide ide gila anak muda. Tapi kalau anak anak muda yang kreatif seperti Reza apa ya masih mau jadi karyawan…ha ha ha.

 
4 Comments

Posted by on 17/05/2011 in Uncategorized

 

Bisnis Oleh Oleh Khas Daerah Punya Potensi Besar

Bisnis oleh oleh terkait erat dengan ‘travelling’. Saat ini orang suka travelling untuk mengisi liburan. Travelling menjadi tren, terutama bagi kelas menengah.

Tengok saja, kota Bandung, betapa macet pas liburan, terutama libur panjang. Orang orang Jakarta yang sehari hari sudah sumpek dengan suasana kota Jakarta, pasti larinya ke mana lagi kalau bukan Bandung. Bandung menjadin pilihan tujuan wisata terdekat, padahal di Bandung juga mereka akan menjumpai kemacetan lagi.

Tapi setidaknya, suasana baru didapatkan Bandung. Dan yang lebih menggiurkan adalah banyaknya objek wisata di Bandung, entah itu wisata kuliner, wisata belanja, atau wisata alam.

Bisnis oleh oleh berkembang dari peluang ini, banyak pelancong tentu tak afdol kalau berwisata tanpa membawa oleh oleh sepulang mereka ke kota asal.

Kota Malang, tempat penulis tinggal, juga merupakan tujuan wisata yang layak dikunjungi. Dengan iklim yang relatif masih sejuk, dan banyaknya objek wisata alam, sangatlah menjadi prioritas bagi pelancong untuk daerah Jawa Timur. Terlebih dengan semakin berbenahnya Kota wisata Batu (masuk Malang Raya) yang lebih sejuk dari kota Malang sendiri, akan semakin menarik buat para pelancong.

Bisnis oleh oleh di Malang didominasi oleh keripik, yang paling terkenal adalah keripik tempe. Sentra industri keripik tempe di daerah Sanan, sangat terkenal, pernah jadi kunjungan Presiden Sby waktu kampanye.

Di sana banyak bermukim perajin tempe skala UKM, tempe Malang dibuat dari kedelai impor, tanpa tambahan bahan lain selain ragi. Jadi bisa diklaim bahwa rasanya gurih kedelai. Sangat beda dibanding tempe dari daerah lain, yang kadang ditambah serpihan jagung.

Untuk meningkatkan nilai jual tempe, banyak perajin tempe membuatnya menjadi keripik. Keripik tempe terkenal sebagai oleh oleh khas kota Malang. Tempe dipotong kotak atau bulat tipis tipis, dicelup larutan tepung berbumbu, dan digoreng. Hmm rasanya gurih dan renyah.

Dulu keripik tempe hanya mengenal satu rasa orisinal, tapi sekarang banyak dibuat variasi rasa. Ada rasa balado, barbeque, lada hitam, rumput laut, keju dll. Tapi rasa orisinal tetap banyak yang menyukai, rasa asli tempenya sangat terasa.

Yang penasaran dengan bagaimana sih rasanya keripik tempe asli Malang, silakan cek di toko kami Aremafood.Com

Semoga menambah khasanah liburan Anda.

 
3 Comments

Posted by on 15/11/2010 in bisnis, produk, ritel

 

Tags: , , , , , ,

Membangun ‘A Great Team’ – Penerapan KPI dlm UKM

Tulisan ini saya cuplik dari blog Pak Rawi Wahyudiono (member TDA di Jakarta). Ini review dari TDA Forum, yaitu pertemuan semi rutin yang menghadirkan narasumber Pak Yodhia Antariksa, seorang pakar HRD Manajemen.

Cukup banyak ilmu yang disampaikan dan cukup banyak juga solusinya dari beberapa permasalahan yang sering menimpa UKM dalam hal membangun tim bisnis kita.

 

Ada beberapa hal yang bisa diringkas selama acara yaitu:

1. Kepuasan karyawan adalah hal yang utama sebelum kepuasan pelanggan.

2. Meng-interview karyawan harus selalu mengedepankan pikiran positif dengan berpedoman kepada apa yang telah mereka kerjakan di masa lampau, jangan menanyakan pertanyaan yang belum pernah dia kerjakan.

3. Ciptakan tradisi positif di perusahaan seperti yel-yel, training reguler, musik pada saat-saat tertentu, dll.

4. Pemberian reward secara reguler berkali-kali dalam 1 tahun lebih baik daripada pemberian reward 1 tahun sekali walaupun dalam jumlah besar.

5. Strategi pemberian gaji bisa seperti ini:
a. Fix salary
b. Variable salary (tunjangan, komisi, dll)
c. Bonus

Komunikasikan seperti apa perusahaan kita, dengan mendefinisikan visi, misi, seperti contoh untuk perusahaan Dealer Motor Honda.

Visi:
Menjadi dealer sepeda motor Honda terbaik se-Indonesia.

Misi:
- Menyediakan layanan distribusi dg mengutamakan kepuasan pelanggan.
- Menyelenggarakan kegiatan usaha dlm iklim kerja yg fun dan produktif demi pertumbuhan hidup perusahaan.

Penilaian Karyawan adalah sesuatu yang membingungkan bagi saya, ada beberapa aspek yang sulit diukur, seperti perilaku, sifat, dan aspek psikologis lain, kalaupun ada parameternya subjektif.

Tapi untuk membangun ‘a great team’, harus dilakukan penilaian secara berkala. Untunglah Pak Rawi berbaik hati menuliskan di blognya, sehingga saya bisa mengintip.

Berikut point2 tentang penilaian karyawan yang dijelaskan oleh Pak Yodhia.

Beberapa Aspek Dalam Penilaian Karyawan:
A. Aspek Perilaku:
1. Inisiatif & kreatifitas
2. Komunikasi & kerjasama
3. Kualitas Hasil pekerjaan
4. Kedisiplinan

Nilai :
1= poor performance
2= need improvement
3= standard
4= good
5= very good
Ada umpan balik pengembangan

B. Aspek Hasil Kerja (Key Performance Indicators)
1. Penjualan (dalam rupiah, misal=2M)
2. Skor Kepuasan Pelanggan (dari skala 1-5)
3. Jumlah produk yg dihasilkan/bulan (misal 100 box)
4. Jumlah pelanggan baru (misal 10/bulan)
Buat kolom perbandingan antara target, realisasi, dan % pencapaian

Personality Test & Profile:
DiSC profile merupakan alat tes yg mengukur dan membagi kepribadian dalam 4 dimensi utama yaitu:
1. Dominance : memiliki kecenderungan kuat untuk menggerakkan dan mempengaruhi orang lain
2. Influence : memiliki tendensi untuk terbuka dan berinteraksi dg banyak orang, suka bergaul dan bersosialisasi/ngobrol
3. Steadines: memiliki tendensi utk bersikap konsisten, stabil dan mengacu pada prosedur yg telah baku
4. Compliance : memiliki tendensi utk memberikan perhatian pada detil dan akurasi

Dimensi Kunci dlm People Management:
1. Recruitment & Selection
2. Training & Development
3. Performance Management
4. Reward Management
5. Career Management

Teringat juga ‘quotes’ dari Brad Sugars : ‘If you want to build a great team, start with a great culture‘….cukup mengena. Kapan mulai membangun ‘corporate culture’??…ya sekarang mumpung bisnis kita belum besar..he he.  Menurut saya ‘corporate culture’ bisa dimulai sejak proses rekrutmen dan pelatihan.

Selamat menerapkan.

 
6 Comments

Posted by on 03/11/2010 in Uncategorized

 

Menggunakan Twitter Sebagai ‘Brand Bulding’

Kita mengenal 2 social media yg pasti akrab kita sambangi yaitu FB dan Twitter. Keduanya punya karakter yang berbeda sama sekali. Jangan menyamakan keduanya, dan jangan menerapkan pola komunikasi yg sama pada kedua jenis soc-med tsb. Terlebih dengan tujuan untuk membangun BRAND kita.

Yang ingin saya bahas adalah si primadona saat ini yaitu Twitter. Tulisan ini saya rangkum dr beberapa sumber yg kompeten, salah satunya adalah pakar online strategist yang juga Penasehat TDA yaitu Nukman Luthfie. Sumber lain adalah dari hasil ‘sharing’ para tweeps (para pekicau di twitter), seperti sahabat saya owner MOZ5Salon.

Untuk membuka wawasan seberapa beda sih Twitter itu (yg sudah kecanduan Twitter silakan lewati saja), silakan disimak:

1. Twitter itu jejaring informasi dengan 2 pola hubungan: following dan followers.

2. Kita follow orang bukan karena kedekatan hubungan, tetapi lebih karena apakah informasi 140 karakternya menarik atau tidak.

3. di FB, sebaliknya, kita tidak akan berteman jika tidak kenal sebelumnya. Butuh kedekatan emosional utk menjadi teman di FB.

4. Hubungan di FB itu SETARA. Hanya 1 hubungannya: FRIEND. Ini kebalikan Twitter: kita bisa follow tapi seringkali tidak di-follow back.

5. Karena harus kenal, maka teman di FB pun dibatasi 5 ribu. Otak kita tidak sanggup mengingat teman terlalu banyak.

6. Sebaliknya, jumlah following dan followers di Twitter tidak dibatasi, karena kita tidak dituntut untuk mengenal yang kita follow dan follower.

Semoga tweet 1-6 tadi menjelaskan beda Twitter sebagai jejaring informasi dan FB sebagai jejaring sosial.

Catet yaaa, pertemanan di FB itu HARUS KENAL. Jadi jangan sakit hati kalo gak diapprove. Kalau di-unfollow di twitter juga nggak boleh marah, itu artinya timeline kita tidak menarik bagi follower.

Nah bagaimana membangun BRAND AWARENESS di Twitter. Nanti dulu, latar belakang dulu yah. Saya baca di detik.com (saya follow di Twitter: @detikcom) bahwa perusahaan PC terkemuka DELL menangguk untung sekian milyar USD gara gara kontinyuitasnya nge-tweet di Twitter.

Gampang sih, brand sudah terkenal pasti cepet dapat follower, apalagi artis pasti laris deh. Marketer DELL semuanya terkoneksi dengan Twitter, dan mereka punya kewajiban menyapa follower-nya. Di Twitter mereka banyak mendapatkan feedback dari follower yang mungkin adalah pelanggan DELL. Dan itulah aset DELL, follower dan feedback-nya.

Sekarang bagaimana dengan kita para start up business. Yah sekaranglah waktunya buat akun Twitter, silakan bikin akun pribadi, tapi yang penting adalah akun bisnis kita.

Nah bagaimana caranya memanfaatkan Twitter untuk mengenalkan BRAND kita. Ada beberapa prinsip yang saya rangkum dari berbagai pendapat para ahli untuk berkomunikasi di Twitter:

1. Content
Seberapa seringpun kita nge-tweet, kalau ‘content’ tidak menarik, lama lama akan ditinggalkan follower (unfollow). Cari konten2 yang menarik, tentu yang berhubungan dengan bisnis kita, komunikasikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, karena follower kita heterogen. Yang paling penting adalah : jangan beriklan secara vulgar di twitter. Pengguna Twitter adalah netizen (istilah Hermawan K) yang merdeka, mereka tidak mau didikte dengan iklan, apalagi dibombardir iklan. Jadi iklan yang vulgar adalah HARAM di Twitter, sebaiknya lakukan dengan halus sehingga follower kita tidak menyadari itu adalah iklan.

2. Commnunication.
Untuk cepat ‘engagedd’ di dunia Twitter, sering2lah menyapa follower, atau bisa juga ‘nyamber’ istilah untuk merespon tweet dari tweeps lain. Komunikasi yang terus menerus searah di twitter kurang efektif untuk menarik follower. Jadi komunikasi kita harus bisa memancing respons pengguna Twitter. Jika sudah ‘engaged’ di dunia Twitter, kita bisa mengomunikasikan Brand atau produk kita, tentu saja prinsip egaliter (setara) harus dipegang. Follower kita kedudukannya adalah setara dengan kita, lebih jauh lagi…customer kita setara kedudukannya dengan kita. Jadi model2 komunikasi yang bombastis HARAM hukumnya.

3. Continuity.
Membangun BRAND di Twitter tidak bisa dibangun dalam semalam….ini samasekali tidak instan. Kontinyuitas harus dijaga, begitu riuhnya dunia Twitter, sekali kita terjun di dalamnya, kita akan dibombardir oleh beragam informasi baik itu berguna atau hanya sampah. Jika kita mengabaikan kontiyuitas, Brand kita akan tenggelam. Padahal tujuan kita membangun brand adalah supaya melekat di benak konsumen.

4. Consistency
Hari ini kita buka akun Twitter belum tentu sebulan follower kita bisa mencapai 100 orang. Bagi Brand2 startup, meraih follower bukan suatu hal yang gampang. Namun, harus kita lakukan mulai sekarang. Dan jangan langsung berharap, dengan buka akun Twitter, omset penjualan kita langsung melesat. He he tidak seperti itu, yang kita bangun adalah fondasi brand kita dulu. Tujuan jangka panjangnya adalah meraih sebanyak mungkin follower, mengomunikasikan brand atau produk kita, dan mendapat feedback dari para follower/customer kita.

Tips2 untuk cepat ‘tune in’ di Twitter:
1. Follow orang2/perusahaan/brand yang tepat. Tapi untuk permulaan meraih follower adalah follow sebanyak2nya, nanti kalau sudah ada beberapa follower kita bisa lakukan seleksi ulang siapa2 yang kita follow.

2. (Listening) Jadilah pendengar yang baik, dapatkan aura dari kicauan orang2 di Twitter. Pelajari hal2 yang membuat orang tertarik.

3. (Engaged) Jadilah pihak yang responsif, sapa beberapa orang, jawab jika ada pertanyaan (tentu yang kita tahu), berikan info yang kira2 dibutuhkan orang.

4. (Speaking) Waktunya bicara….

Tapiii…nge-tweet bisa bikin kecanduan, kalau kita terlalu asyik di dalamnya, wah kerjaan yang lain jadi terlupakan. Bagi yang berbisnis online, wajib lho punya akun Twitter aktif. Siapkan seorang staf untuk ‘tune in’ di sini, beri pelatihan, dan delegasikan pengetahuan dan kebiasaan kita di dunia Twitter.

Twitter bisnis saya masih saya pegang sendiri, karena saya masih proses ‘engaged’ belum dalam tahap ‘speaking’. Saya berhati hati untuk mendelegasikan ke staf, karena jika ada kesalahan bisa bisa ditinggal follower.

Tapi ingat, Twitter hanyalah salah satu ‘tool’ untuk membangun brand, ‘tool’ lain masih banyak. Tapi ditengah makin meningkatnya pengguna internet, sungguh mubadzir untuk tidak memanfaakan kelebihan ‘tool’ ini untuk kepentingan bisnis kita. Membangun Brand di dunia maya (khususnya Twitter) adalah sarana yang murah.

So…dengan makin banyaknya netizen (pengguna internet aktif), apakah kita hanya jadi penonton saja keriuhannya. Suatu saat nanti bisa diperkirakan bahwa semua transaksi jual/beli adalah transaksi online.

Salam, semoga bermanfaat.

 
2 Comments

Posted by on 29/10/2010 in bisnis, TDA

 

Tags: , , , , , , ,

Launch a (New) Product/Brand

Twitter bikin saya kecanduan. Saya follow beberapa account (individu/perusahaan/badan) yg bermuatan pendidikan ttg bisnis, filsafat, spiritual, agama, kesehatan dll. Salah satunya adalah IMA (Indonesia Marketing Association). Mereka sering menulis kultwit=kuliah twitter (tweet di twitter scr berkesinambungan ttg sesuatu yg layak diketahui/dipelajari), yah memang kulitnya saja sih, pendek kurang dalam, tp lebih bagus drpd kita ber-soc-med tanpa manfaat sama sekali.

Salah satu kultwit dr IMA (@IMAindonesia) yg menarik perhatian saya pagi ini adalah ttg LAUNCH A BRAND. Sangat menginspirasi sekali buat yg akan terjun di dunia ritel (online maupun offline).

Kultwit mereka dlm konteks membahas perubahan beberapa gerai McD menjadi Tony Jack. Tweet mereka antara lain:

1. Seharusnya Tony Jack mengikuti tahap sakral dengan baik. PRE LAUNCH –> LAUNCH –> POST LAUNCH

2. Ketika proses berganti kulit, harus ada tenggang waktu tenang. Disaat itu promosi close Brand mungkin cocok. Hingga orang menerka ada apa ini.

3. Selama itu pastikan kualitas produk anda berada selevel atau diatas tentunya. Karena untuk makanan, rasa tetap no 1. RnD (Research & DevelopmenT) dalam2.

4. Persiapkan material yg akan dikenakan Brand. Semua perangkat yg terlihat itu ada di moment of truth. Memberikan brand image. Buat dengan niat!

5. Tegas pilih, melanjutkan konsep murni, atau menjadi berbeda dan menyerang brand lama. Jangan setengah-setengah.

6. Adakan pengenalan kembali nilai-nilai perusahaan yang berubah, agar karyawan bergerak lewat satu nilai. Dan memberikan kesatuan yang tepat.

7. Jangan pernah membuka toko ketika product, package, people blm siap, promotion belum niat. Di retail, apabila buka berarti sdh siap tempur.

8. Ketika LAUNCH, bukan kemegahan. Tapi antarkan nilai perusahaan sedetil2 nya. Buatlah keterikatan dengan konsumen. Ikat konsumen lama.

9. Ketika launch dan sdh berjalan, lakukan apa yang anda janjikan di promosi. Jangan kecewakan konsumen di masa awal dia mencoba percaya.

10.Beberapa waktu lewat, cek google, socmed, koran, berita. Temukan suara konsumen anda lewat media online atau offline. Catat berita buruknya.

11. Launch BRAND baru yang hasil dari perubahan BRAND lama tidak sederhana. Anda perlu strategi. Dan konsistensi.

No. 7 saya beri highlight sebagai penekanan dan pengingat. Teringat kata2 Pak Rosihan (Saqina Group) ‘Orang Ritel tdk pernah tidur’.

Semoga bermanfaat.

Salam

 
1 Comment

Posted by on 19/10/2010 in bisnis, produk, ritel

 

Tags: , , , , , ,

Sari Buah Apel yang Berkhasiat

Makanlah apel setiap hari dan tubuh akan terhindar dari penyakit. Demikian makna  peribahasa bahasa Inggris an apple a day keeps the doctor away. Bukan hanya penyakit ringan seperti flu dan diare yang bisa ditangkal dengan apel, tapi juga kanker, serangan jantung, dan stroke.

Buah apel memang banyak kandungan gizinya, selain vitamin juga zat antioksidan. Zat2 yang sangat bermanfaat dalam buah apel antara lain:

1. Flavonoid (tertinggi)
Buah apel paling banyak mengandung flavonoid dibandingkan dengan buah buahan yang lain.  Zat ini menurut penelitian mampu menurunkan risiko penyakit kanker.

2. Boron
Boron membantu tubuh perempuan mempertahankan kadar estrogen pada saat  menopause.
3. Pektin
Pektin (serat larut dalam buah buahan dan sayuran) terbukti menurunkan kadar kolesterol
dalam darah.
4. Tanin
Tanin dapat mencegah kerusakan gigi dan penyakit gusi yang disebabkan oleh tumpukan plak.

Tidak hanya itu, tanin juga berfungsi mencegab infeksi saluran kencing dan menurunkan
risiko penyakit jantung.

Buah ini hampir tanpa lemak dan kolesterol, sehingga cocok dimasukkan sebagai menu orang yang sedang berdiet. Keluhan seperti sembelit pada orang diet, tidak akan terjadi bila
orang tersebut memasukan apel sebagai bagian dari menunya.

Meski bermanfaat mengatasi sembelit, buah apel juga punya khasiat meredakan diare. Ini
menurut Miriam Polunnin dalam bukunya “Healing Foods”. Menurut buku tersebut, apel sangat bermanfaat untuk pencernaan.

Malang adalah kota yang terkenal dengan produksi buah apelnya, terutama di daerah Batu
dan Poncokusumo. Banyak kreasi dari petani dan pebisnis tentang produk buah apel ini.
Mereka mengolah buah apel sehingga menjadi produk yang mempunyai nilai tambah.

Salah satunya adalah menjadikan buah apel sebagai produk makanan kemasan macam keripik buah apel, jenang apel, dodol apel, dan juga minuman kemasan yaitu sari buah apel. Banyak produsen sari buah apel di sekitar Batu dan Poncokusumo.

Aremafood.com mempunyai produk unggulan sari buah apel dengan merk Royal. Sari buah apel ini diproduksi dari buah apel jenis Royal Gala, dengan tambahan gula pasir asli (bukan
pemanis buatan). Rasanya segar manis, sedikit asam khas buah apel, dan tentunya punya
kandungan vitamin yang tinggi.

Sari buah apel Royal diproduksi secara higienis dan dikemas dalam cup plastik kecil dan
besar. Cup kecil berisi 120ml dalam 1 dus isi 36 cup, untuk cup besar berisi 200ml dalam
1 dus berisi 24 cup.

 
1 Comment

Posted by on 22/09/2010 in bisnis, produk, ritel

 

Tags: , , , , , , , ,

Geliat Bisnis Menjelang Lebaran – Sebuah Ritual (2)

Melanjutkan posting saya terdahulu tentang bisnis bisnis yang meningkat omsetnya menjelang Lebaran.

Yang paling menjengkelkan adalah (lho kok menjengkelkan) overload -nya paket paket di jasa kurir/ekspedisi. Mereka sangat kewalahan. Paket yang hari biasa hanya perlu 2 hari sampai, ini bisa 4-5 hari. Pengalaman saya bertransaksi online dengan toko online lain yang mensyaratkan pengiriman paket pakai JNE, dua kali juga paket sangat telat sekali datangnya, cuma dari Jakarta dengan tujuan Malang. Perjalanan udara Jakarta – Malang lancar, tapi sesampai di Malang gak segera dikirim ke alamat….huf butuh waktu 4 hari menunggunya….imposible.

Jadi bidang bisnis yang terbuka lebaaar sekali menjelang Lebaran adalah bisnis jasa kurir/ekspedisi ini. Ayoo dong yang berminat bisnis jasa, silakan bangun bisnis ini, pasti banyak owner bisnis online yang menunggu.

Bisnis wisata hmm panen juga, liburan apalagi libur Lebaran identik juga dengan berwisata. Para pemudik setelah usai silaturahmi ke kerabat, pasti kangen juga berpelesir ke tempat tempat wisata daerahnya.

Bisnis operator telekomunikasi sedang booming juga. Pemudik pemudik pastinya butuh alat komunikasi, dari yang belum punya menjadi harus punya, dari yang sudah punya makin bertambah frekuensi sambungan komunikasinya. Dan lihat saja iklan iklan operator seluler, mereka berlomba lomba menarik perhatian konsumennya.

Cuci mobil juga dapat berkah Lebaran juga. Pemudik berkantong tebal pastilah males nyuci mobil sendiri, sedangkan silaturahmi tentu tidak bisa dengan mobil yang buluk.

Terlalu banyak lagi untuk disebutkan satu persatu. Lebaran akan terus berulang setahun sekali. Dan sepertinya para pelaku Lebaran dari tahun ke tahun akan bertambah konsumtif. Apakah makna Lebaran semakin menuju pendangkalan, itu adalah soal lain. Karena semua orang gembira dengan datangnya Lebaran.

 
Leave a comment

Posted by on 09/09/2010 in bisnis

 

Tags: , , , ,