RSS

Fenomena #Maicih

17 May

Selama 2 minggu ini saya sedang mengamati intens di social media dan media media online tentang suatu brand bernama MAICIH. Apaan itu? Sebuah brand dg produk keripik, apa hebatnya sebuah brand keripik. Yah keripiknya memang bukan kategori produk fenomenal, tapiiii strategi pemasaran dan ‘positioning’ yang dipakai itu lho, bikin saya geleng geleng kepala. Kok ada ide orisinil segila itu, bukan sembarang gila, tapi gila yang mendatangkan profit, tentu mau dooong.

Berawal dari pengamatan saya terhadap TL (Time Line) guru guru gratisan di Twitter yaitu @Iimfahima, beliau sedang kultwit tentang peranan social media bagi bisnis. Nah salah satu follower-nya ‘mention’ tentang MAICIH ini. Saya pun penasaran, maka gentayanganlah saya mencari info. Saya korek dari Facebook dan Twitter, serta media online yang mengulas tentang MAICIH ini.

Maicih adalah brand sebuah keripik berbahan singkong, kalau sekedar keripik saja banyak itu dan gak ada yang menarik. Tapi kalau keripik itu ditambah dengan unsur pedas, dan pedasnya ber’level tentu agak sedikit menarik. Level kepedasaanya dari mulai 3,5, dan terakhir sangat pedaaas sekali level 10 (duuuh gak bisa bayangin). Produknya biasa saja, diberi sedikit ‘keunikan’ maka jadilah dia. Tapi sama sama keripik pedas, ada juga produk teman TDA dulu yang menjual kepedasan sebagai jualannya, namanya ‘Keripik Setan’ entah sekarang kok gak ada kabarnya.

Kalau hanya produk yang sedikit unik saja, tanpa didukung strategi pemasaran yang jitu, ya hasilnya biasa biasa saja. Maicih lain, dari sisi produk, okelah sudah ada nilai uniknya. Tapi harus ditunjang oleh strategi pemasaran yang tidak biasa untuk menjadi sebuah fenomena.

Adalah Reza Nurhilman, mahasiswa PTS di Bandung yang menemukan Maicih. Dia menemukan produk itu bikinan seorang nenek yang menurutnya terasa enak sekali, tapi hanya diproduksi terbatas dan tidak kontinyu. Reza akhirnya mengemas keripik tersebut dan memberi label MAICIH (Mak Icih) dengan logo seorang nenek.

Kemudian dia merekrut beberapa sales yang disebut sebagai Jenderal Maicih, sedangkan Reza sendiri menyebut dirinya Presiden Maicih. Jenderal jenderal ini masih muda muda, beberapa masih mahasiswa. Dan semua Jenderal diwajibkan bikin akun Twitter dan punya mobil. Nah, jenderal jenderal ini bergentayangan (istilah mereka) menjual keripik Maicih dalam mobil, mereka mangkal di suatu pusat keramaian kota, dan jualanlah mereka di situ.

Efek viral disebarkan melalui beberapa akun Twitter yang dipunyai para jenderal tsb. Dan ada beberapa akun Twitter yang memang khusus untuk menyebarluaskan keberadaan para jenderal tsb, antara lain @infomaicih @infomaicih_jkt @infomaicih_bdg. Saat sekarang saya mengamati, @infomaicih sudah mempunyai 54.000 follower dan aktif ngetwit. Tahu kan arti 54.000 follower, itu aset yang sangat mahal. Saya sampai iri, karena mereka ngetwit dan melakukan hardselling, yang kata guru guru saya di Twitter agak diharamkan, tapi ternyata follower mereka nambah terus.

Dan kenyataan di lapangan, mobil mobil para jenderal tsb selalu dengan antrian yang mengular. Tidak hanya di Bandung saja, di Jakarta, Tangerang, Semarang, Jogjakarta juga antriii. Antrian antrian tsb di-share fotonya di Twitter dan Facebook. Pasti sudah bisa dibayangkan betapa hebat efek viralnya.

Maicih gak punya web, gak ada blog, melulu jualan dengan dibantu soc-med. Tapi konsumennya yang notabene anak anak muda netizen menjadi evangelist Maicih. Mereka (konsumen) berbagi foto sedang makan keripik Maicih, dengan muka kepedasan ‘tericih icih’ (istilah mereka). Mereka share foto makan Maicih di Twitter dan Facebook. Dan inilah kekuatan Maicih, dia dicintai konsumennya.

Pengamatan saya lanjutkan, karena masih penasaran. Saya amati terus TL @infomaicih, mereka sedang membangun karakter, ya karakter brand Maicih. Mereka dengan sengaja menciptakan istilah istilah yang konsisten dipakai, dan ternyata dicintai konsumennya. Seperti: iciher (pecinta Maicih), tericih icih (kepedasan), jenderal (para sales), gentayangan (sdg mangkal jualan), heuheuheu (ketawa khas Maicih berikut jendral2nya, jadi ketawa aja kompak). Menurut saya itu sangat khas anak muda. Reza (owner) dengan jeli membidik segmen anak muda sebagai target market, menurut saya karena hanya anak muda yang social media addict. Dan memang Twitter adalah tool utama mereka untuk menciptakan efek viral.

Nah, anak anak muda ini suka brand yang punya karakter, selain keunikan. Dari sisi produk kekuatan Maicih adalah menciptakan semacam pengalaman ‘kepedasan’. Pengalaman kepedasan inilah yang membuat para evagelist-nya bersedia memamerkan ke media online. Saya jadi ingat buku Hermawan Kertajaya, karakter netizen adalah mereka narsis, ingin sebagai subjek, ingin membagi pengalaman, nah klop kan, ketemu brand yang menurut mereka cocok dengan karakter mereka, maka tanpa dibayar mereka akan dengan senang hati menjadi pemasar viral bagi brand tsb.

Pengamatan lebih lanjut, Reza sang owner dari awal rekrut para jenderal, dia tidak rekrut sembarangan. Ada proses interview, ada proses karantina ‘Character Building’…..wiiih anak muda sudah berpikir seperti itu.

Fenomena Maicih ini juga ada buntutnya, banyak para plagiat yang jelas jelas memakai brand Maicih, bahkan ada yang buka lapak di mall. Entah saya kurang tahu pasti bagaimana Presiden Maicih mengantisipasinya, bisnis mana sih yang bebas dari pembajakan.

Nah, banyak sekali yang bisa saya pelajari dari fenomena ini. Jadi punya impian suatu saat harus ‘hire’ seseorang yang gila seperti Reza, karena saya sadar keterbatasan diri. Saya tidak akan mampu menyaingi kreativitas dan ide ide gila anak muda. Tapi kalau anak anak muda yang kreatif seperti Reza apa ya masih mau jadi karyawan…ha ha ha.

 
5 Comments

Posted by on 17/05/2011 in bisnis, produk, ritel

 

Tags: , , , , , ,

5 responses to “Fenomena #Maicih

  1. Evi Indrawanto

    28/05/2011 at 19:15

    Bermain di social media itu ternyata butuh kreativitas tinggi ya Jeng. Tapi rasanya bukan hanya di social media, namun di setiap unit bisnis, kalau saja diberi sentuhan kreativitas kitanya pasti keluar dari kerumunan yah. Jadi kepikiran juga pengen meng-hire anak muda seperti Reza itu..Sebetulnya market palm sugar organik juga ada di kalangan anak muda. Mereka kan yg nongkrong di cafe-cafe, ngopi dan nge-jus..nah itu kan marketnya gula sehat tuh..duh, gimana caranya yah..hehehe..

     
  2. lukmansetia

    24/11/2011 at 07:14

    Waah two thumbs kupasannya Yuk …aku seneng bangets osi mampir di blog sampean.

     
  3. Fauzi

    01/12/2011 at 17:39

    Ibu Dyah, betul juga analisanya ibu. Maicih adalah produk fonumental setelah dulu ada tela-tela. Tinggal strateginya mas Reza aja bagaimana bisa bertahan paling tidah 2-5 tahun. Mengingat tela-tela awalnya juga sangat boom tapi lama-lama redup juga. Inovasi dan kreatif perlu di praktekan. Untuk mas Reza pasti dah Kaya sekarang jadi nggak perlu tunggu 5 tahun lagi. Tinggal bikin produk baru dan selalu pro gadget. Sukses untuk ibu Dyah, pembaca dan saya juga dong.
    http://www.balikpapan-info.blogspot.com
    Fauzi Pondok Mantau Balikpapan

     
  4. Dheisy

    17/12/2011 at 20:18

    Bu Dyah, salam kenal… Punten saya mau repost artikel Ibu di blog saya ya…
    Terima kasih sblmnya Bu 🙂

     
  5. cholifah

    22/02/2012 at 04:04

    info baru tentang maicih, membangun brand bisnis yang unik
    makasih infonya mb dyah
    salam kenal🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: