Menciptakan Produk, Butuh Kesabaran – Launching KANE KANE

Berlatar belakang ingin memenuhi kebutuhan konsumen untuk produk keripik dengan rasa yang tidak berlebihan. Karena rasa gurih yang berlebihan berasal dari pemakaian MSG (Mono Sodium Glutamat) atau vetsin. Dalam kadar rendah rasa gurih sih ‘fine-fine’ saja. Tapi kalau kebanyakan pasti bikin eneg, dalam kadar yang tinggi biasanya sejam setelah makan, bisa pusing, nggliyeng, atau ada rasa sedikit mual. Itu banyak diyakini orang sebagai efek MSG. Bahkan ada istilah ‘Chinese Restorant Syndrome’ untuk menyebut kondisi keluhan setelah mengkonsumsi makanan ‘Chinese’ yang sering menggunakan MSG.

Saya pribadi di rumah tidak pernah memasak menggunakan vetsin, karena takut kebiasaan memakai vetsin akan menumpulkan lidah, jadi tidak sensitif lagi. Wah tidak bisa icip icip lagi, padahal icip icip adalah pekerjaan utama saya πŸ˜€

Selama ini semua produk Aremafood.Com adalah produk dari supplier. Jadi menciptakan produk sendiri dari awal adalah hal yang baru bagi saya. Banyak tantangannya, dan bahkan nyaris membuat saya putus asa. Ide ini sebenarnya sudah lama ada, tapi karena butuh belajar dari awal, sementara urusan bisnis yang lain masih menuntut perhatian, jadi yaa terbengkalai.

Saya akan cerita agak panjang tentang proses penciptaan Kane Kane ini. Semoga bermanfaat bagi para start up.

Nama produk (merk) sudah lama diciptakan suami saya @titotweets. Kane Kane adalah ‘boso walikan’ khas Ngalam (Malang), jadi pas dong buat Aremafood. Sudah tahu artinya kan??

Nama tersebut adalah nama yang umum meski unik. Karena itu ‘mendaftarkan merk’ adalah keharusan. Sebelum produk berwujud dalam bentuk fisik, saya terlebih dulu mendaftarkan merk-nya ke Ditjen HAKI, dengan bantuan sobat saya notaris yang cantik dan pintar @rositawibawa. Beruntung nama Kane Kane belum ada yang mendaftarkan dengan kategori produk yang sama. Meski sempat deg degan karena kata sobat saya sudah ada nama tsb tapi lain produk.

Pekerjaan berikutnya adalah menciptakan desain logo merk dan desain kemasan. Wah, ini sih butuh waktu lama bagi saya untuk mempelajarinya. Mana buku buku desain produk sedikit sekali. Saya menemukan 1 buku terjemahan yang lumayan bagus, judulnya ‘Desain Kemasan’ ditulis oleh Klimchuk dan Krasovec, keduanya adalah desainer produk di Fashion Institute of Technology (FIT) USA.

Buku tsb detil banget cocok buat desainer, lha saya bukan desainer, yang saya perlukan hanyalah point globalnya saja, untuk memberi arahan pada desainer. Dari buku tsb saya mengambil kesimpulan, sebelum menciptakan produk, tentukan dulu siapa konsumennya. Dan saya memfokuskan konsumen Kane Kane adalah ibu ibu (ya dong ibu adalah pengambil keputusan pembelian barang konsumsi rumah tangga). Dan tentu ibu ibu yang peduli dengan makanan sehat.

Jadi sebuah kemasan produk harus disukai seorang ibu. Apa yang disukai? Sesuatu yang mengingatkan seorang ibu pada…….anaknya. Apa benang merah nya…………karakter yang lucu, bukankah kelucuan identik dengan anak anak. Nah, jadi desain kemasan Kane Kane nantinya harus mengandung ‘kelucuan’ πŸ˜€

Beruntung ada teman di komunitas TDA @TanganDiAtas yang bisnisnya ‘menjual kelucuan’. Dan Mas @WahyuLiz berhasil menangkap ide saya dan menuangkannya dalam bentuk desain logo Kane Kane yang lucu.

Inilah desain awal Kane Kane yang lucu, dengan maskotnya yaitu Mr. Kane:

Oh iya meloncat dulu, jauuuh sebelum mendaftarkan merk, saya mendaftarkan produk ke Dinas Kesehatan (Kementrian Kesehatan di Kotamadya/Kabupaten) untuk mendapatkan ijin P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga).

Desain logo sudah, berikutnya adalah desain kemasan. Produk keripik adalah produk yang rentan terhadap udara terbuka. Kemasan plastik, murah tapi tidak tahan lama. Alumunium foil sedikit mahal tapi daya simpannya lebih lama dari plastik. Ok saya pakai alu foil, supaya bisa tahan lama dan tentu lebih bagus tampilannya.

Desain kemasan saya ganti 2 kali. Pertama model gusset, karena terlihat kurang rapi untuk keripik tempe, saya ubah jadi standing pouch. Pe er berikutnya adalah desain stiker, kenapa pakai stiker…..ya iyalah UKM gitu. Modal kerja harus dibagi bagi untuk banyak pos pos pengeluaran. Maunya sih bikin kemasan cetak alu foil, macam kemasan snack yang banyak di supermarket. Tapi untuk pesan kemasan seperti itu pasti ada kuota, dan kuotanya gak main main. Oke alu foil pakai stiker saja dulu.

Produknya ini produk apa saja sih? hanya keripik tempe dan keripik jamur. Keripik tempe sangat laris di Aremafood.Com selain keripik buah. Saya ngiler melihat penjualan keripik tempe yang pesat sekali, sedangkan produk itu bukan produk saya sendiri, tentunya margin berdagang ‘barang orang lain’ sangat tipiis. Memangnya pedagang harus produksi juga?? Ya nggak lah, itu lebih karena saya ngiler saja dengan potensi profit menjual produkΒ  sendiri. Karena sebenarnya masuk jalur produksi, sungguh menguras tenaga dan pikiran, dan saya harus belajar dari awal.

Mendesain produk tidak bisa dipikirkan satu demi satu, maksudnya setelah satu hal selesai, baru hal yang lain dikerjakan, kelamaaaan. Banyak hal bisa dipikirkan dan dikerjakan secara tandem, bersamaan, itulah gunanya ‘outsourcing’. Desain kemasan, desain logo, desain stiker, produksi ‘seasoning powder’ serahkan sama ahlinya.

Keripik tempe dan keripik jamur tentu banyak variannya, garing dong kalau hanya ‘rasa original’ saja. Meski saya sendiri lebih suka sesuatu yang ‘original’. Lha makan keripik tempe kok pakai rasa balado, atau barbeque. Makan keripik tempe ya berharap rasa tempenya yang muncul.

Tapi sungguh bodoh kalau saya produksi berdasarkan keinginan saya saja. Okelah manut pasar, saya produksi keripik tempe dan keripik jamur selain ‘rasa original’ juga harus ada rasa rasa yang lain. Nah, kan nambah pekerjaan jadinya. Karena memilih rasa rasa yang tepat diinginkan konsumen sungguh pelik. Belum lagi mencari produsen bumbu aneka rasanya. Gak banyak produsen ‘seasoning powder’, mungkin hanya hitungan jari di Indonesia. Yang banyak hanyalah agen atau distributor dari produsen2 besar tadi.

Setelah googling, saya menemukan produsen untuk ‘seasoning powder’, produsen besar di Jakarta dan bisa produksi ‘customized’. Jelas harus ‘customized’, wong bumbunya juga gak pake MSG, sekalian juga saya minta gak pakai pewarna, dan gak pakai perasa buatan (esense). Mereka bisa memproduksinya, dan mengganjar kecerewetan saya dengan harga penawaran yang tinggi.

Pikir saya paling juga gak banyak produsen ‘seasoning powder’ yang bisa memproduksi sesuai pesanan klien. Karena kebanyakan, produsen memproduksi bumbu bumbu yang laku di pasaran saja, dalam jumlah banyak, kemudian dijual eceran.

Setelah tes berbagai rasa dengan sample ‘seasoning powder’ yang ada di Jakarta (pas dengan acara Pesta Wirausaha TDA) kemarin, saya bersedia order dengan kuota dan harga yang mereka tetapkan, meski kuotanya bikin modal saya tersedot banyak ke situ. Bumbunya ‘worth it’ deh, sebanding dengan harganya.

Sekarang waktunya produksi dimulai. Ada masalah yang membuat saya rada stress. Tes rasa waktu sampling ternyata tidak selalu sama dengan hasil akhir produksi. Keripik tempe dengan rasa keju yang sudah diproduksi banyak ternyata gagal total, rasa asinnya tidak bisa ditolerir. Wiiih, trus mau saya apain keripik tempe rasa keju sekarung itu?

Dengan berat hati, produk gagal tsb harus di-destroy, jangan dipaksakan dijual, karena akan membunuh ‘brand’ yang akan saya bangun 😦 Terpaksa saya eksperimen lagi dengan keripik tempe rasa keju. Bumbunya (seasoning powder) sudah tidak bisa diapa apain lagi, dan saya sudah order dalam kuota yang lumayan banyak. Jadi yang diubah adalah resep keripik tempe dan tepungnya. Modifikasi dilakukan, akhirnya keripik tempe rasa keju yang baru…………layak dijual.

Gimana sih rasanya cemilan tanpa MSG? Tenaang, rasa gurih bisa dipertahankan kok dengan penambahan bumbu natural. Malah menurut saya sih gurihnya ‘mild’ gitu, gak tajam yang ujung ujungnya bikin eneg.

Berikut tampilan akhir Kane Kane, dengan stiker hasil utak atik asisten handal saya @_inuyusha :

Advertisements

15 thoughts on “Menciptakan Produk, Butuh Kesabaran – Launching KANE KANE

  1. Akhirnya punya produk sendiri..Sukses yah Kane-Kane..Rasanya keripik tempe dan jamurnya pasti enak-enak πŸ™‚

  2. Waaaah,kereeeen…..jadi penasaran(Β¬Ν‘Λ› ¬͑”)β€Žβ€‹ ni rasanya,sukses terus mbak, KaneKane bisa menyebar seluruh indonesia dan luar negeri,AminYaAllah(β€’Ν‘Μ―.β€’Ν‘Μ―)

  3. bermanfaat banget sharingnya…

    deg2an skaligus ikut seneng krn happy ending…padahal ga ikut bantuin bikin ya πŸ™‚

    boleh dong bu, saya belajar juga bikin produk sampe bisa launching kaya gitu… πŸ™‚

  4. panjang yak bu πŸ˜€

    kaya baca cerpen nih
    nice share
    saya jg sedang bikin produk

    untuk daftar paten Brand
    dan untuk ke dinkes syarat dan ketentuan nya apa sja bu?

  5. Kreatif dan menginspirasi. Saya baru tahu produk Kane Kane saat menghadiri acara Nangkring Kompasiana bareng LPS di Hotel Santika, Malang (19/8/2017) dan Mbak Dyah Purana sebagai salah satu narasumbernya. Boleh tahu, benarkah Kane Kane itu bahasa walikan khas Arema yang berarti enak enak? Bagaimana kisahnya membranding produk itu? Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s