RSS

Minimalis

19 Sep

Saya terinspirasi gaya hidup minimalis dari tulisan Pak @roniyuzirman founder komunitas TDA. Dilanjutkan dengan baca baca blog guru minimalis Leo Babauta @zen_habits, pikir saya habit seperti itu kok aku banget gituh.

Saya males belanja, apalagi belanja ke mal. Pinginnya belanja semua kebutuhan harian bs dilakukan online he he, cuma belum bisa terlaksana. Beli baju paling banter setahun 2-3 kali termasuk Lebaran. Jadi tumpukan baju saya di lemari tidak lebih dari 2 saf yang tingginya sekitar 40 cm. Jika ada baju baru maka ada kegiatan sortir baju, yang sudah gak kepake meluncur ke PRT, dulu sih, sekarang sudah gak punya PRT. Jadi tumpukannya tidak pernah lebih dari 40cm. Saya suka beli baju di teman teman TDA, itung itung melariskan dagangan mereka.

Saya lebih suka membeli barang yang awet dan bagus kualitasnya. Seperti dompet, dulu dibelikan mantan pacar @titotweets tahun 1998 dan masih saya pakai sampai sekarang meski sudah sobek di banyak tempat. Dompetnya dulu bagus sih ‘Braun Buffel’ beli di Jerman waktu doi ke sono. Dan bener kata orang, barang barang bikinan Jerman awet. Sekarang sudah kayak dompet rongsokan, yang orang lain mungkin sudah membuangnya. Tapi buat apa beli baru kalau yang lama masih bisa dipake.

Ada lagi barang yang saya eman eman, kaca mata hitam, yang saya punya gak bermerk, belinya dulu seratusan ribu. Kemarin patah, akhirnya tertolong oleh lem Alteco…..he he asiik gak perlu beli lagi, meski tampilannya jadi kurang bagus. Sepatu ada 3, itupun sudah 3 tahun yang lalu belinya. Tas cuma ada 1, merk Elizabeth, merk Indonesia. Dan berharap masih bisa dipakai sampai 5 tahun ke depan hi hi.

Peralatan memasak dan makan apalagi, kadang malu juga sama tamu, kalau ada tamu agak banyak gelasnya berlainan, bahkan kadang gak cukup. Saya suka berpikir buat apa menuh menuhin lemari dapur kecil ini dengan banyak barang. Toh barang barang tsb jarang dipakai. Jadi untuk barang barang yang sekiranya hanya dipakai setahun hanya 2-5 kali, saya tidak beli.

Saya sudah stop beli Tupperware, khawatir kabinet dapur terlalu penuh. Saya suka Tupperware karena awet, gak seperti barang plastik buatan Cina yang gampang rusak.

Sebisa mungkin kegiatan mencetak saya lakukan di kedua sisi kertas. Jadi kalau satu sisi kertas masih kosong, saya simpan, untuk digunakan lagi di sisi yang lain. Sering saya menggunakan kertas bekas pemberitahuan dari sekolah anak saya. Pegawai saya tahu itu, dan wajib melakukan hal yang sama.

Tentang gadget, saya bukan petualang gadget. Tidak suka gonta ganti ponsel. Eh saya masih pakai Nokia E63 lho, dan tablet Android. Terpaksa punya 2 gadget karena Android yang 2 sim card kebanyakan gak awet. Nunggu merk bagus yang 2 sim card kok masih sedikit. Pakai 2 sim card dengan pertimbangan penghematan pulsa.

Pengalaman pakai tablet merk Cina murah yang gak pake ‘gorilla glass’, saat jatuh dipakai mainan anak saya….pecah. Dan ternyata kerusakannya parah, biaya perbaikan terlalu mahal, mending beli baru yang anti pecah😀

Blackberry…..lupakanlah, banyak teman yang protes pebisnis kok gak pakai BB. Ngapain beli BB kalau semua bisa dilayani oleh Android. Lagian paket langganan BB menurut saya mahal, gak rasional. Handset BB juga ringkih. Tinggal nunggu kejatuhan RIM di Indonesia🙂

Dari media sosial saya juga berkenalan dengan orang orang dari komunitas organis. Selain ‘concern’ dengan makanan sehat organik, mereka juga menerapkan gaya hidup ‘eco friendly’. Mengurangi konsumsi, tidak membeli barang barang yang tidak dibutuhkan. Bahkan grup yang saya ikuti mengadakan pasar jual beli barang bekas. Transaksi hanya dari dan untuk anggota.

Sebagian dari teman teman organis tadi, mereka menanam sendiri sayuran yang biasa dikonsumsi, dengan tata cara bertanam organik. Sayang saya belum bisa seperti itu.

Saya suka prinsip ‘less consumption’. Sumber daya alam seperti air, saya usahakan berhemat, meski di kota Malang air bersih berlimpah. Saya selalu cerewet jika anak anak mencuci piring atau cuci tangan dengan air keran yang terus mengalir padahal airnya tidak sedang dipakai. Tutup dulu kerannya, kalau mau membilas baru dibuka.

2 anak cukup juga mendukung prinsip ‘less consumption’. Anak saya cuma 2. Saya tidak ingin menambah manusia lagi yang tentunya akan menambah konsumsi lagi. Penambahan 1 manusia akan berbuntut dengan bertambah lebar ‘family tree’. Dengan bertambah 1 manusia kira kira 30 tahun lagi bisa jadi 3, kalau dia menikah dan punya 2 anak.

Itu kalau 2 anak, bagaimana kalau 4 anak……….

Kalau orang orang sekarang masih berpikir banyak anak banyak rezeki, kasihan bumi kita. Apakah bumi masih bisa mendukung kehidupan kita 50 atau 100 tahun lagi?

Mungkin ada yang protes, kalau semua orang bergaya hidup minimalis, pertumbuhan ekonomi mandeg. Sektor riil tidak banyak bertumbuh. Orang mengkonsumsi sedikit, karena mereka hanya butuh sedikit pangan, sedikit sandang, sedikit papan. Ha ha saya tidak bisa menjawab.

Setidaknya hidup minimalis, hanya menyumbang sedikit sampah, hanya mengeruk sedikit sumber daya alam. Dan membuat hidup lebih nyaman, karena kita tidak terlalu terobsesi dengan kepemilikan barang.

 
9 Comments

Posted by on 19/09/2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

9 responses to “Minimalis

  1. indonesiasiapmenulis

    20/09/2012 at 07:41

    wah ini bagus bangeet.saya mau ikutan dong mba gimana caranya?

     
    • Dyah Purana

      20/09/2012 at 08:21

      Gampang Mas, prinsipnya ‘less consumption’.

       
  2. elang526

    20/09/2012 at 08:09

    Hanya mengomentari bagian blackberry, itu menunggu kejatuhan rim di indonesia, atau mengharap kejatuhan rim di indonesia? :p

    Berita-berita kejatuhan itu hanya didengungkan “musuh” rim, dengan data yang absurd.
    Kalo mau melihat realitanya, berapa banyak pertumbuhan pemakai bb, dan yang kalo ingin ganti gadget juga masih pilih bb?

    Kalo mengikuti dunia development bb, terlihat roadmap bb yang masih mantabh ke depannya.

    Yang komentar miring tentang bb biasanya belum punya bb, atau tidak dapat memanfaatkan keunggulan bb. Ya itu artinya mereka memang gak layak pake bb.

    Meski pake sambil jengkel, tapi tetap dipake😉
    *colek yang merasa😀

    Operasional 2 perusahaan tempat saya bekerja, sepenuhnya terbantu komunikasi lewat bbm dan bbg. Meskipun bermunculan alternatif komunikasi lain, belum ada yang seluwes bbg/bbm.

    Biaya bb mahal? Jangan dibandingin dengan media lain yang efektifitas dan efisiensinya di bawah bb lho ya😉

    Jadi kalaupun menunggu kejatuhan rim di indonesia, kenapa gak menunggu sambil memanfaatkannya?

    *bukan promosi, ingat, saya pengguna semua gadget (bukan kehidupan minimalis tapi kebutuhan) :p

    *diketik melalui bb*

     
    • Dyah Purana

      20/09/2012 at 08:20

      Ha ha komen dan ulasan yg cerdas. Gitu dong punya prinsip jgn hanya ikut arus. Tks bro menambah khasanah berpikir. *tapi tetep gak pake BB* hi hi hi

       
  3. fiea

    20/09/2012 at 08:27

    Ikutan komen soal bb…:D
    Percaya ga percaya sejak pake bb omzet meningkat 3x lipat…:D
    Enaknya pake bb kalo ada produk baru kita ga perlu lagi cari2x konsumen. Tinggal gonta ganti dp…kalo ada yg tertarik langsung nyaut deh…
    Meskipun kadang ngeselin kalo lagi lemot…tapi msh tetap cinta dgn bbku :p

     
    • Dyah Purana

      20/09/2012 at 08:32

      oke oke BB msh banyak pendukungnya…..siip. Kok berubah fokus jadi *gadget war* sih. Ini ‘minimalis’ *mengembalikan ke fokus yg benar* ha ha ha

       
  4. anugrah pangestu (@anugrahp)

    22/09/2012 at 10:16

    Artikel ini membuat saya seperti berkaca mbak🙂 memang dimulai dari diri sendiri untuk mengajak anggota keluarga melakukan penghematan, memang agak terkesan cerewet dan medit buat mengingatkan anggota keluarga yang lain. Tapi itulah usaha menuju penghematan apapun termasuk Sumber daya alam🙂 sukses selalu mbak

     
  5. FunkyMami

    23/09/2012 at 17:38

    Hi mba Dyah. Artikel yg menarik. Saya salut sama prinsipnya. Sebuah contoh yg bagus buat masyarakat kita yg cenderung konsumeris dan latah sama produk dan trend baru. Eh, ngomong2 kita pernah ketemu lho di nikahan mba Dyah dulu. Masih ingat ngga? Saya istrinya Holger.

     
    • Dyah Purana

      23/09/2012 at 17:55

      halo FunkyMami, pasti ingetlah Mbak, istri mantan bos🙂 enak ya melancong terus. Suka tulisan di blog dirimu. Terus menulis ya

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: